Perlukah Tim Jaringan (Network Team) Merancang Infrastruktur Cloud?

Saat ini banyak perusahaan beralih ke cloud untuk menjalankan aplikasi dan layanan bisnis mereka. Namun, muncul pertanyaan yang sering menjadi perdebatan di dunia IT: siapa yang seharusnya bertanggung jawab merancang lingkungan cloud? Apakah tim cloud, tim developer, vendor cloud, atau justru tim jaringan (network team)? Pertanyaan ini menjadi topik diskusi menarik yang dibahas oleh para praktisi IT dalam forum yang diselenggarakan oleh BlueCat Networks.

Tantangan Desain Hybrid Cloud

Banyak perusahaan saat ini menggunakan model hybrid cloud, yaitu kombinasi antara infrastruktur lokal (on-premises) dan layanan cloud publik seperti AWS, Microsoft Azure, atau Google Cloud.

Sayangnya, dalam praktiknya banyak implementasi cloud yang dibangun secara spontan atau “organik”. Sebuah tim bisnis atau developer sering kali membuat layanan cloud untuk kebutuhan proyek tertentu tanpa melibatkan tim jaringan sejak awal. Ketika proyek tersebut berkembang menjadi sistem produksi, tim jaringan baru diminta untuk mengintegrasikannya dengan infrastruktur perusahaan. Akibatnya muncul berbagai masalah seperti konfigurasi yang tidak standar, keamanan yang kurang baik, dan kesulitan dalam pengelolaan jangka panjang.

Cloud Tidak Sama dengan Jaringan Tradisional

Salah satu alasan mengapa muncul perdebatan ini adalah karena lingkungan cloud memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan jaringan tradisional.

Di pusat data tradisional, tim jaringan memiliki kendali penuh terhadap perangkat seperti router, switch, firewall, dan load balancer. Di cloud, sebagian besar komponen tersebut sudah disediakan oleh penyedia layanan cloud dalam bentuk layanan virtual.

Karena itu, seorang engineer jaringan tidak bisa hanya menerapkan desain yang sama seperti di data center lokal. Mereka perlu memahami konsep baru seperti:

  • Virtual Private Cloud (VPC)

  • Cloud routing

  • Security Groups

  • Transit Gateway

  • Cloud DNS

  • Identity and Access Management (IAM)

Sebaliknya, arsitek cloud juga perlu memahami prinsip dasar jaringan agar desain yang dibuat tetap aman dan dapat dioperasikan dengan baik.

Kolaborasi Adalah Kunci

Hasil diskusi para ahli menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada satu tim yang bisa bekerja sendiri dalam merancang cloud.

Desain cloud yang sukses membutuhkan kolaborasi antara:

  • Tim jaringan

  • Tim cloud

  • Tim keamanan (security)

  • Tim aplikasi dan developer

  • Tim operasi IT

Arsitek cloud memahami layanan cloud dan cara memanfaatkannya secara optimal. Sementara itu, tim jaringan memahami konektivitas, DNS, routing, segmentasi jaringan, dan keamanan infrastruktur.

Ketika kedua pihak bekerja bersama sejak tahap perencanaan, hasilnya biasanya lebih stabil, aman, dan mudah dikelola. Bahkan penelitian yang dibahas oleh BlueCat menunjukkan bahwa perusahaan yang mampu mengintegrasikan tim cloud dan jaringan secara efektif memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan manfaat maksimal dari investasi cloud mereka.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Salah satu kesalahan umum adalah ketika tim jaringan mencoba “memindahkan” seluruh desain jaringan lokal ke cloud tanpa memanfaatkan layanan native cloud.

Contohnya, beberapa organisasi langsung membuat virtual router dan virtual firewall di cloud karena mereka sudah terbiasa menggunakan perangkat tersebut di data center lokal.

Padahal banyak penyedia cloud telah menyediakan layanan bawaan yang lebih sederhana, lebih murah, dan lebih mudah dikelola. Menggunakan pendekatan lama di lingkungan baru sering kali menyebabkan biaya meningkat dan performa tidak optimal.

Jangan Lupakan DNS dan Infrastruktur Dasar

Dalam banyak proyek cloud, fokus utama biasanya pada aplikasi. Akibatnya komponen dasar seperti DNS, IP Address Management (IPAM), routing, dan keamanan sering terlupakan.

Padahal komponen-komponen tersebut merupakan fondasi utama agar aplikasi dapat berjalan dengan baik.

Karena itu, para ahli menyarankan agar perwakilan tim jaringan dilibatkan sejak awal proyek. Dengan demikian kebutuhan seperti DNS, load balancing, keamanan jaringan, dan integrasi dengan sistem lama dapat dipertimbangkan sejak tahap desain, bukan setelah sistem selesai dibuat.

Peran Penting Pemimpin IT

Selain kolaborasi antar tim teknis, peran manajemen IT juga sangat penting.

Banyak organisasi masih bekerja dalam silo, di mana setiap tim hanya fokus pada tugasnya masing-masing. Akibatnya komunikasi menjadi terbatas dan keputusan dibuat tanpa mempertimbangkan kebutuhan tim lain.

Para ahli menekankan bahwa pemimpin IT harus bertindak sebagai mitra bisnis, bukan hanya pengelola teknologi. Mereka perlu memastikan seluruh tim terlibat dalam perencanaan proyek sehingga tidak ada pihak yang merasa “diberitahu belakangan” ketika sistem sudah hampir siap digunakan.

Kesimpulan

Jadi, apakah tim jaringan harus merancang cloud?

Jawabannya adalah ya, tetapi tidak sendirian.

Lingkungan cloud modern membutuhkan kombinasi keahlian dari berbagai tim. Tim jaringan memiliki peran penting dalam memastikan konektivitas, keamanan, DNS, dan integrasi berjalan dengan baik. Namun mereka juga perlu memahami teknologi cloud modern. Di sisi lain, tim cloud harus memahami prinsip-prinsip dasar jaringan agar desain yang dibuat tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Pada akhirnya, keberhasilan implementasi cloud bukan ditentukan oleh siapa yang memiliki kendali penuh, melainkan oleh seberapa baik seluruh tim dapat berkolaborasi. Perusahaan yang mampu menyatukan keahlian jaringan, cloud, keamanan, dan operasional akan lebih siap menghadapi transformasi digital dan memanfaatkan cloud secara maksimal.

bluecat Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi bluecat.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.